Dari Hobi Beternak Ayam Menjadi USaha yang Menjanjikan

Di Indonesia peternakan ayam cukup banyak, hampir di setiap kota terdapat peternakan ayam terutama ayam pedaging (broiler) dan ayam petelur. Namun tidak demikian halnya dengan jumlah peternak ayam kampung yang jumlahnya tergolong masih sedikit.

Yudi (43) peternak ayam kampung yang Cendana News temui di kediamannya di Jalan Tlogomas Gang 8 C2 No.9 Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang ini menceritakan awal mula ketertarikannya beternak ayam kampung. Bermula dari hobinya yang sejak kecil sudah senang memelihara ayam dan dengan mempelajari peluang pasar yang ada dimana meskipun harga ayam kampung lebih mahal namun sedikit sekali peternak yang berhasil membudidayakannya.
Dari situ, akhirnya pada tahun 2008 dia mulai merintis usaha peternakan ayam kampung dengan metode persilangan antar ayam lokal, ceritanya kepada Cenda News Sabtu (21/3/2015).
Menurut Yudi, sedikitnya jumlah  peternak yang mau dan berhasil beternak ayam kampung ini disebabkan karena ayam kampung memilki beberapa kelemahan yaitu produksi telur rendah, pertumbuhan lambat, bersifat kanibal dan setelah bertelur 7-10 butir biasanya ayam kampung akan mengerami telurnya dan tidak bertelur lagi untuk sementara waktu. Namun dengan metodenya ini, ayam kampung miliknya bisa menghasilkan produksi telur yang lebih banyak, pertumbuhan cepat, sifat kanibal berkurang dan tidak mengeram. Karena ayam kampung miliknya tidak mengeram, telur-telur yang dihasilkan kemudian dia tetaskan dalam mesin penetas buatannya sendiri, urainya.
Yudi yang merupakan lulusan STM ini mengaku bahwa metode yang dia pakai ini diperolehnya secara otodidak yaitu dengan cara mempelajari dan mengamati karakter ayam, dia sama sekali tidak pernah mengikuti pelatihan maupun bekerja di peternakan.
Yudi menjelaskan bahwa ayam kampung miliknya ini, setiap ekornya mampu menghasilkan telor sebanyak 200-250 butir per tahun. Diatas lahan dengan luas 500 m², dia kini memiliki ayam lebih dari 500 ekor yang produksi. Dia menjual anakan ayam yang berumur 2-3 hari ke petani dengan harga Rp. 6.000,- per ekor dan setelah ayam berumur 3 bulan, oleh petani biasanya dijual lagi ke Yudi yang kemudian dagingnya dia jual ke restoran dan rumah tangga. Dalam seminggu dia bisa menjual anakan ayam rata-rata 1000 ekor per minggunya.
Selain anakan ayam, dia juga menjual indukan ayam kampung petelur maupun pedaging dan juga mesin penetas. Dari usahanya ini, dia bisa mencukupi kebutuhan ekonomi rumah tangganya dan bisa untuk membangun rumah.
Dengan ditemani Fatra yang merupakan keponakan Yudi, Cendana News berkesempatan mendatangi lokasi kandang ayam yang jaraknya cukup jauh dari rumah Yudi. Menurut Fatra, meski lebih sehat serta kandungan gizi dan serat pada daging Ayam kampung lebih tinggi dibandingkan ayam broiler, namun karena langkanya ketersediaan ayam kampung dan juga harganya yang cukup mahal di pasaran apalagi pada saat menjelang hari raya Idul Fitri membuat masyarakat lebih memilih membeli ayam broiler dibanding ayam kampung.

 

sumber : cendananews.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s